Duet Kresna dan Trimegah Rajai IPO Start-Up

Duet Kresna dan Trimegah Rajai IPO Start-up

Farid Firdaus, Kamis, 26 September 2019 | 20:09 WIB


JAKARTA, investor.id – PT Kresna Sekuritas dan PT Trimegah Securities Tbk (TRIM) secara konsisten menangani penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham perusahaan rintisan (start-up). Dalam tiga tahun terakhir, pesaing dua sekuritas tersebut hanya PT Sinarmas Sekuritas. Direktur Utama Kresna Sekuritas Octavianus Budiyanto mengatakan, prospek dari perusahaan start-up adalah pertumbuhannya yang terbilang lebih tinggi dari rata-rata emiten penghuni lama Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga semester I-2019, tiga perusahaan start-up di bawah bendera PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) mengalami lonjakan laba bersih yang signifikan dibanding semester I-2018. Pihaknya mencatat, hingga Juni 2019, laba bersih PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) melonjak 104%, PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) melesat 755%, dan PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) 690% dibanding periode sama tahun lalu. Sementara, Kresna sebagai induk mengalami pertumbuhan 23% dan anak usahanya, Digital Mediatama Maxima yang segera tercatat di bursa, bertumbuh 96% secara year on year. “IPO start-up ini adalah sebuah momentum. Shareholder Kresna terinsipirasi dengan Grup Alibaba. Kami memutuskan mulai dengan M Cash pada 2017,” kata Octavianus di sela acara The 31st Investor Gathering Bizcom Indonesia bertajuk “IPO Journey for Startups”, di Jakarta, Kamis (26/9). Menurut Octavianus, kunci utama agar saham start-up dilirik investor adalah posisi top line dan bottom line yang sehat. Pemilik start-up juga perlu pintar-pintar memparkan prospek bisnis kepada calon investor. Ini berarti pendekatan dengan calon investor harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum IPO. Sementara itu, Head of Capital Market Investment Banking Trimegah Securities Lenie Ferbriana mengatakan, pihaknya selalu memaparkan kelebihan dan kekurangan menjadi perusahaan terbuka kepada calon-calon emiten. Pihaknya sepakat, jika  hanya start-up yang memiliki positif margin gross yang siap untuk IPO. “Mereka juga harus punya keunikan cerita serta brand awareness yang bagus. Proses di internal menjelang IPO itu sendiri bisa satu hingga dua tahun. Tapi proses untuk mendapatkan izin hingga listing hanya sekitar empat hingga lima bulan,” jelas dia. Pada kesempatan sama, CEO Jagartha Advisors FX Iwan mengatakan, sebagai perusahaan konsultan, pihaknya melihat IPO merupakan salah satu alternatif pencarian dana bagi start-up yang secara tidak langsung menggantikan penggalangan dana yang melewati berbagai putaran, seperti Seri A, seri B, dan seri C. Saat ini, lanjut dia, bahkan ada pilihan pencarian dana melalui equity crowdfunding yang ditawarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ini tentu kabar bagi bagi para start-up. Namun, yang kini menjadi permasalahan adalah kesiapan calon emiten ini dalam merapihkan laporan keuangan sebelum menggelar IPO. Misalnya, pada laporan keuangan emiten di BEI terdapat pembukuan penjualan. Sementara di laporan buku start-up, penjualan ini kerap diartikan sebagai gross merchandise value (GMV). Padahal, keduanya hal yang sangat berbeda. “Yang perlu dibenahi lagi bagi para start-up adalah mereka sering beranggapan jika mereka tidak butuh public relation (PR). Padahal, PR justru punya peran penting. Publik bisa mengenal mereka berkat PR,” terang dia. BEI vs Venture Capital BEI yang berperan sebagai regulator juga tak henti-hentinya menyosialisasikan keuntungan go public bagi start-up dan perusahaan lain secara umum. Namun, BEI punya strategi sendiri untuk para start-up. Salah satu kuncinya adalah mendekati sejumlah lembaga keuangan seperti venture capital (VC). Menurut Partnership Coordinator IDX Incubator BEI Alan Fatih, pihaknya justru tidak melihat VC sebagai kompetitor. Sebab, ada hubungan yang saling menguntungkan apabila BEI dan VC saling berkolaborasi. Saat ini, pihaknya mengaku tengah menjajaki salah satu VC besar di Indonesia untuk memetakan perusahaan start-up yang potensial melantai di bursa. “VC itu karena model bisnisnya membuat mereka harus exit dari perusahaan binaannya, mereka juga mencari peluang IPO yang bisa menguntungkan kedua belah pihak,” kata dia. BEI, lanjut dia, meyakini sejak beberapa tahun lalu tren IPO sudah bergeser, dan tahun ini hal tersebut kian terasa. Calon emiten tidak lagi mengincar dana IPO minimal Rp 1 triliun. Kini, perusahaan dengan target emisi puluhan miliar rupiah makin percaya diri menawarkan saham perdananya. BEI memperkirakan tren tersebut akan bertahan pada masa mendatang.

Sumber : Investor Daily

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul “Duet Kresna dan Trimegah Rajai IPO Start-up”
Penulis: Farid Firdaus
Read more at: https://investor.id/market-and-corporate/duet-kresna-dan-trimegah-rajai-ipo-startup



Leave a Reply

Scroll Up